Dampak krisis keuangan AS terhadap ekonomi global

Kita semua tentu sudah tahu bahwa saat ini negara super power amerika sedang dalam masalah / krisis keuangan. Menurut kompas penyebab dari krisis ekonomi AS adalah penumpukan hutang nasional yang mencapai 8.98 triliun USD, pengurangan pajak korporasi, pembengkakan biaya perang irak dan afghanistan, dan yang paling krusial adalah Subprime Mortgage: Kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan Lehman Brothers, Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UF.

Surat kabar di Eropa menyoroti krisis ekonomi di Amerika Serikat yang dampaknya juga mulai terasa di Eropa.

Mengenai krisis konjunktur di Amerika Serikat dan akibatnya bagi pertumbuhan ekonomi global,

Harian dari Italia La Republica yang terbit di Roma dalam tajuknya berkomentar :

“Saat ini Amerika Serikat dilanda resesi yang sangat serius dan menyakitkan. Kini pertanyaanya adalah: Seburuk apa fase konjunktur ini, dan apakah akan dapat meruntuhkan ekonomi Amerika Serikat secara mendadak? Di Eropa, terutama  Bank Sentral Eropa walaupun menyadari hal itu merupakan ilusi, masih tetap mengharapkan bahwa mereka masih dapat melindung kawasannya atau menepis dampak dari krisis berat ekonomi di Amerika Serikat. Namun, di tahun 2008 ini Eropa tidak akan lagi mampu menahan dampak krisis ekonomi dari Amerika Serikat dan akan ikut tergilas.”

Dari Perancis Harian Dernieres Nouvelles d`Alsace yang terbit di Strassburg juga mengomentari dengan tajam krisis ekonomi dunia tsb:

“Di Jerman serikat buruh menuntut kenaikan gaji sampai 8 persen untuk mengimbangi daya beli yang terus menurun. Juga di Perancis menurunnya daya beli menjadi topik bahasan. Namun dalam kenyataannya penurunan daya beli ini adalah masalah seluruh Eropa. Di mana-mana pertumbuhan ekonomi harus dikoreksi ke bawah. Bank Sentral Eropa mengecam tuntutan serikat buruh- khususnya dengan menyoroti Jerman sebagai penggerak ekonomi Eropa. Ekonomi global mengalami perubahan drastis. Krisis kredit di Amerika Serikat menunjukkan betapa rentannya globalisasi moneter. Para aktor baru ekonomi juga muncul di luar rencana. Seperti halnya dana simpanan jangka panjang dari negara-negara penghasil minyak bumi, yang merupakan investasi jangka panjang. Yang berbeda dari dana pensiun, yang hanya tertarik pada keuntungan jangka pendek. Perubahan drastis dalam sirkulasi keuangan tidak dapat diabaikan lagi.”

Sedangkan Harian yang beredar di Jerman Der Tagesspiegel yang terbit di Berlin berkomentar :

“Juga jika tidak seluruh ketakutan menjadi kenyataan, sekarang terlihat betapa buruknya persiapan Jerman menghadapi penurunan konjunktur. Tahun lalu kas negara hanya mendapat pemasukan 70 juta Euro, walaupun pendapatan dari sektor pajak meningkat milyaran Euro. Negara tidak mampu lagi mengembalikan kemampuannya untuk bertindak. Politik secara keseluruhan, gagal mengambil manfaat dari laju konjunktur. Asuransi kesehatan, yayasan dana pensiunan dan pasaran kerja tidak lagi kebal dari krisis. Tema ini harus dibicarakan dalam kampanye.”

Dan yang terakhir harian liberal Denmark Information yang terbit di Kopenhagen mengomentari dampak resesi pada kampanye pemilu presiden di AS :

“Ancaman resesi ekonomi di tahun pemilihan presiden, secara ajaib kelihatannya mempersatukan partai Republik dan partai Demokrat di Kongres serta presiden saat ini. Sakarang ini juga harus disuntikkan dana segar bagi sirkulasi ekonomi, dan lebih baik tentu saja jika langsung disalurkan kepada konsumen AS. Seandainya presiden AS merintangi proyek ini, peluang partai Republik untuk mempertahankan kekuasaannya di Gedung Putih akan semakin buruk. Sebab kandidat partai demokrat dapat melemparkan tanggungjawab bagi resesi serius tahun 2008 ini, kepada Bush dan partai Republiknya. Untuk sementara, kelihatannya krisis ekonomi tsb meningkatkan peluang partai Demokrat untuk memenangkan pemilu presiden dan meraih mayoritas di kedua kamar di Kongres.”

Lantas bagaimana dengan di Indonesia? krisis kuangan yang menimpa amerika jelas juga berdampak di Indonesia, seperti harga rupiah yang terus melemah, IHSG yang juga tidak sehat, ekspor diperkirakan juga menjadi terhambat karena perusahaan- perusahaan AS akan melakukan politik banting harga. Namun apakah krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997/98 akan terjadi lagi? Menurut Ekonom UGM Sri Adiningsih menilai sampai sejauh ini pemerintah Indonesia belum mempunyai langkah strategis untuk mengantisipasi dampak krisis financial AS, padahal jika krisis financial AS tidak segera teratasi maka dampaknya terhadap perekonomian Indonesia bisa lebih buruk dibanding krisis ekonomi tahun 1997/98.

Setidaknya kita berharap pasar asia masih bertahan dalam menghadapi krisis yang terjadi di AS, karena saat ini pemerintah hanya memiliki strategi untuk fokus kepada jalur distribusi ekspor, akan tetapi apabila pasar asia ikut hancur maka dipastikan Indonesia akan mengalami krisis ekonomi yang lebih parah dari tahun 1997/98

------------------------------------



------------------------------------

Pinara.Net

Tags: , , , , , , , , , , , , ,

Posted in Rehat



Tulisan lain yang mungkin terkait
  1. Pasar Asia Goyah, Krisis Moneter Indonesia bisa terulang...
  2. Obama Menang, Akankah Perang di Irak Berakhir?...
  3. GOOG-411 Yellow Pages Voice dari Google...
  4. Susahnya cari logo resmi hut RI ke-63...

48 Responses to “Dampak krisis keuangan AS terhadap ekonomi global”


andreas iswinarto October 11th, 2008 at 11:05 pm

Salam pembebasan,

Tragedi!

Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

Silah kunjung
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html

kartika sitorus October 12th, 2008 at 3:27 pm

kirimin kronologi cerita kasus lehman dan krisis amerika,, thanks before ya..

bambang irwandi October 12th, 2008 at 6:46 pm

Dengan artikel seperti ini saya sebagai seorang pelajar banyak dapat pengetahuaan dengan mudah, walaupun saya kurang sering membaca koran,tapi sya dapat menbrowse ke link ini oleh sebab itu terima kasih atas kekreativan yang tim penulis buat,harapan moga-moga lain waktu dapat nenampilkan yang lebih kompleks.trims

Elang Rabindra WH October 13th, 2008 at 10:36 am

tolong dong kasih tahu dampak resesi global di Indonesaia untuk sektor riil

Trimakasih.

Elang RWH

mailita October 13th, 2008 at 8:48 pm

tolong kasih tau donk sebab2 krisis ekonomi global

admin October 13th, 2008 at 11:15 pm

AFAIK, Penyebab utama krisis yang terjadi di USA sebenarnya sederhana yakni Kredit Macet, bahasa kerennya adalah krisis Sub Prime Mortgage.

Kredit macet yang terjadi di Lehman Brothers mengejutkan banyak pihak dan ini yang membuat pasar panik, para investor mulai menarik dananya dan Lehman mengalami kerugian milyaran USD Dollar. Bayangkan saja perusahaan yang sudah berumur lebih dari 100 tahun ini tiba2 tumbang tak berdaya.

Banyak perusahaan yang memiliki saham di Lehman Brothers terkena dampaknya yang akhirnya berlarut dan akhirnya menyebabkan krisis global disamping membengkaknya hutang nasional AS.

Insya Allah nanti saya buatkan artikelnya yang kumplit.

muh ali kosim October 15th, 2008 at 8:44 pm

terima kasih untuk artikelnya.semoga nanti bisa lebih komplit.

lius October 15th, 2008 at 11:26 pm

Tolong dijelaskan mengenai kebijakan pemerintah atau BI dalam menyelamatkan nilai rupiah; kaitannya dengan krisis pasar modal. terima kasih. Tuhan memberkatimu..]]

memory Aritonang October 17th, 2008 at 10:52 am

saya masih bingung tentang krisis Sub Prime Mortgage.
ada ngk artikel yang lebih mudah dimengerti agar saya tidak bingung lagi…
thanks…………….

SLOWOT IMUT October 19th, 2008 at 3:14 am

Nggak sesingkat itu penjelasan tentang krisis keuangan yg melanda Amerika.Meskipun fokus pada masalah subprime mortgage,tapi hal itu msh blm bisa jd penjelas. Banyak juga tuh pihak pelaku ekonomi di AS yg diuntungkan dgn adanya krisis keuangan di negaranya.
Mengenai pernyataan JK kalau Indonesia diuntungkan dgn adanya krisis keuangan AS, apakah semudah itu bisa berkata hal demikian?
Dengan melihat kondisi saat ini, sulit utk menyatakan kalau Indonesia bisa diuntungkan. Kalau beliau Berkata begitu, mana konsekuensi beliau utk mengambil langkah yang benar-benar pasti dan strategis utk membuat Indonesia tdk kena dampak yg signifikan dari krisis keuangan AS…

anggi October 19th, 2008 at 7:15 pm

kasih tau dampak krisis keuangan global terhadap aktifitas pemasaran pada sebuah pemasaran…pliss

jemesbonyok October 20th, 2008 at 3:10 pm

dari artikel diatas “jika pasar asia ikut hancur maka dipastikan Indonesia akan mengalami krisis ekonomi yang lebih parah dari tahun 1997/98″,
bisa kasih contoh sederhana ?

admin October 20th, 2008 at 4:00 pm

Kita flashback terlebih dahulu penyebab krisis ekonomi Indonesia disamping hutang negara.

Seperti bursa efek indonesia/IHSG jatuh meluncur tajam, rupiah yang melemah kelevel Rp. 15.000 dan sebagainya

Modal dasar pembangunan perekonomian di Indonesia merupakan dari investor-investor asing yang tentu saja ketika terjadi krisis para investor asing menarik modalnya.

Di level Asia, China pun mengalami krisis juga.

(Jelasnya bisa dibaca buku CONFESSIONS OF AN ECONOMIC HIT MAN)

Mengenai contoh sederhana untuk sekarang ini yaitu terjadinya panik pasar di Bursa Efek, harga minyak dunia turun akan tetapi Indonesia tidak menurunkan harga minyak.

masih banyak lagi contoh yang lainnya

Seperti yang diungkapkan mantan menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, bahwa kemungkinan krisis ekonomi akan terulang kembali.

Ok sekarang kita kita pikirkan kembali apakah rekonstruksi ekonomi pasca 1997/1998 sudah selesai dan berhasil?

Gitu aja kali ya… :D

irma siti maryam October 26th, 2008 at 7:23 pm

kalau bagi perusahaan di indonesia, krisis global berpengaruh pada sektor apa saja? tolong balas juga ke email saya,ok! thank’s

ANA JURIATINA October 26th, 2008 at 10:01 pm

faktor Apa saja yang berpengaruh terhadap perekonomian indonesia akibat dari krisis financial Amerika, dan bagaimana mengatasi masing-masing di sektor tersebut ?

omz October 27th, 2008 at 3:43 pm

yahh,,,krisis lagii..kalo negara yang konon katanya disebut sebagai negara adikuasa itu tidak bisa mengatasi hal yang spele kaya githu,,mendingan serahin aja deh ke indonesia yang dulu pernah nyelesein krisis 98..indonesia aja bisa haha..dasar amerika…

omz October 27th, 2008 at 3:49 pm

woi arik kalo ga bisa serahin aja ke gw dahh..githu ajha kok repot hahahahahahah…………

UCY October 30th, 2008 at 10:47 am

bisa di jelaskan detail ga, pengaruh krisis global terhadap perekonomian indonesia thd ekspor, tergadap industri,thdp kesempatan kerja, thdp inflasi, dan thdp moneter. serta dampak2 yang ditimbulkan akibat krisis tersebut..

UCY October 30th, 2008 at 10:50 am

oh, ya…langsung send ke email sya yah..mengenai pengaruh krisis global thdp perekonomian indonesia di bidang ekspor,industri,kesempatan kerja,inflasi & moneter, serta dampak2 yg di timbulkan
ma kasih sebelm nya… :)

Arsyad October 31st, 2008 at 2:38 am

Tlg send ke email sy dampak krisis keuangan AS bg indonesia terutama di bidang ekspor,impor,ksmpatan krja,moneter,dan usaha kerja makro dan mikro

Ira November 1st, 2008 at 12:49 pm

Bagaimana dampak krisis finansial thdp perusahaan indonesia dan bagaim

uli November 1st, 2008 at 3:20 pm

Seberapa besarkah pengaruh krisis global ini mempengaruhi Indonesia?

Oy, langsung send ke email saya ya?!

gatot gitooh November 3rd, 2008 at 6:28 pm

lama2 neg krisis gawat jg ya? trus apa yg harus gw, lw, dan smua calon accounting lakukan? langsung send ke email gw,key!

Phita November 4th, 2008 at 12:53 pm

bisa tlg jelasin dampak tidak stabilnya mata uang US Dollar terhadap laporan laba rugi perusahaan yg ada di Indonesia???
thx

aric November 4th, 2008 at 2:13 pm

thx artikelnya, bs bwt resensi tugas makro…
hehehe,,sebenarnya gmn si detail krisisnya???
anatominya gt…kok bs,penyebabnya,bentuknya,sama dampak2nya????
klo bs kirim k emailQ dnx…

kemala November 5th, 2008 at 9:55 am

mau juga donk dikirimin via email mengenai pengaruh krisis global thdp perekonomian indonesia.

sm seperti requestnya ucy.

thnx berat sebelumnya pak admin :D

putri November 5th, 2008 at 10:20 am

apa penyebab yang mendasari terjadinya krisis ekonomi di AS? dan bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia??? serta apa perbedaan krisis ekonomi tahun 2008 dibandingkan dengan krisis ekonomi 1997???

langsung kirim ke email saya aza YAch…

isti November 5th, 2008 at 3:55 pm

mau dunkz qrimin dampak krisis ekonomi global trhdp dunia bisnis atau pemasaran…
;> syukron yaw,,,

Ratu ayu p November 5th, 2008 at 4:18 pm

hidup tambah susah aja

Nasichin November 6th, 2008 at 7:30 pm

sebenarnya di Indonesia itu banyak orang-orang yang pinter dan berbakat, tapi bakat itu hanya sebagai “pengamat” bukan sebagai “pelaku” yang benar-benar bisa berperan untuk menanggulangi krisis di Indonesia. Kalaupun mungkin ada yang sebagai “pelaku”, harus benar-benar memikirkan dan membenahi krisis ini secara tuntas, minimal kesejahteraan masyarakat yang didahulukan.
Sebenarnya yang perlu kita butuhkan hanyalah MENTAL, yang mana sangat berpengaruh terhadap itu semua. Ingat…!! Ubah MENTAL kita, jangan jadi orang Indonesia yang berMENTAL dijajah. Kita harus mempunyai MENTAL menjajah.

setya budi arta November 9th, 2008 at 8:24 pm

apakah krisis amerika dapat terselesakan apalagi dengan adanya perubahan presiden yag ada di sana saat ini masalahnya dari segi kabinet katanya ada perubahan tapi menteri yang dipakai masi tetap menggunakan sususan kabinet yang lamayaitu pada masa presiden bush.dan apakah dampak yang paling bahaya buat perekonomian indonesia.

desy November 11th, 2008 at 4:39 pm

mohon bantuan nya ya!
Bagaimana pengaruh krisis global terhadap perekonomian di Indonesia terhdp ekspor,Industri,Kesempatan kerja,Inflasi dan Moneter serta dampak apa saja yang timbul akibat krisis tersebut.
makasih ya atas bantuannya.
ku tunggu balasannya

yanita November 11th, 2008 at 9:49 pm

menurut saya krisis ekonomi sangat berpengaruh kepada indonesia, karena sebagaimana kita ketahui bahwa As selalu memegang peranan penting dalam hal ekonomi.kemungkinan dampak bagi indonesia akan terjadi lagi krisis ekonomi seperti yang telah kita alami sebelumnya.

habsah November 11th, 2008 at 9:51 pm

menurut saya krisis ekonomi sangat berpengaruh kepada indonesia, karena sebagaimana kita ketahui bahwa As selalu memegang peranan penting dalam hal ekonomi.kemungkinan dampak bagi indonesia akan terjadi lagi krisis ekonomi seperti yang telah kita alami sebelumnya.

heni isticharoh November 12th, 2008 at 9:35 am

krimin dong tentang:
1. mengapa BI menetapkan kebijakan pengetatan BI rate dalam menghadapi krisis ekonomi global sedangkan kita tau bahwa di negara lain justru menurunkan suku bunga. apa implikasi dan mekanismenya?
2. mengapa nilai Dollar AS justru meningkat seiring terjadinya krisis ekonomi di AS?

tlong bales segera ya,,,langsung krim ke email. thanx b 4…….

dewi November 13th, 2008 at 7:57 pm

bisa tlg jelasin dampak tidak stabilnya mata uang US Dollar terhadap laporan laba rugi perusahaan yg ada di Indonesia???

reno November 14th, 2008 at 9:36 am

apa dampak globalisasi terhadap generasi muda????????

iman November 16th, 2008 at 2:39 pm

*** ayam itu semua, masa bodoh bahas tentang krisis. Indonesia selalu ngomong masalah ekonomi, tidak pernah ada hasilnya, yang ada hanya teori doank, klo bisa buktikan donk mana hasilnya, salah satu misalnya beasiswa bagi masyarakat2 kecil,

iman November 16th, 2008 at 2:43 pm

fio khou SBY, natu and natu, itulah semboyang perjuangan,,,,,, berjuang sah2 aja, tapi yang jadi masalah adalah bagaimana perjuangan tu kita aplikasinya didalam kehidupan bernegara dan berbangsa. contohnya KPK saja selalu cari muka, apalagi pemilu semakin dekat.
fio,,,,, fio…………….. ihinamau SBY….
natu………..

selly yusridha 74 November 17th, 2008 at 1:11 pm

krisis global ini , bikin INDONESIA makin miskin alias tingkat kemiskinan makin MENINGKAT .

selly yusridha 74 November 17th, 2008 at 1:12 pm

smoga masalah ini , bssa semakin cepat di atasi .
AMIN . . .

- selly -
74 rm

agus 3D November 19th, 2008 at 9:47 pm

dikutip dari kompas
BAGAIMANA SEJARAH KRISIS EKONOMI DI AMERIKA????
Belakangan ini kita juga sering lihat berita di TV soal Lehman Brothers yang bangkrut, rencana bantuan keuangan Bush yang ditolak senat, dll, tapi ga gitu ngerti. Setelah baca tulisan ini saya baru ngerti. Semoga bermanfaat.
Oleh: Dahlan Iskan - Pendiri & Pemilik Jawa Pos
Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya “menceritakan” secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba:
Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.
Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat.
Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.
Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.
Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak.
Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya.
Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?
Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?
Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik-dan kasar! Istilah populernya hostile take over.
Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.
Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.
Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana.
Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi..
Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!
Sudah lebih dari 60 tahun cara ‘membesarkan’ perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.
Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized!
Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.
Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.
Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah?
Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?
Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut “Deregulasi Kontrol Moneter”.
Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian.
Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.
Begini ceritanya:
Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama).
Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.
Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage.
Dengan keluarnya “jalan baru” pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait.
Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi ”jalan baru” yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.
Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.
Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark , gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.
Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.
Kata “mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas.
Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut.
Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers?
Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh para pelaku bisnis keuangan sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba.
Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.
Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.
Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras.
Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan “bank jenis lain” yang disebut investment banking..

Apakah investment banking itu bank?

Bukan. Ia perusahaan keuangan yang ‘hanya mirip’ bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam ‘deposito’ dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah ‘personal banking’.

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana , saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.
Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage. Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.
Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang berikutnya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang ‘menabung’ - kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana . Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)

Hidup adalah perjalanan….. Pilih sendiri jalannya dan tanggung akibatnya…
Self Help with a Lord Help is the Best Help

Inggrid November 23rd, 2008 at 7:32 pm

Haduh jadi gimana nih prediksi perekonomian indonesia taon 2009?
Kalo krisis terjadi lagi, berarti indonedia harus mulai “membangun” perekonomian lg donk? padahal skrg aja , pembangunan nya belom selese2 nampaknya..
Yang saya krg paham (maklum bkn org ekonomi) , PEMILU 2009 bakalan membawa dampak buruk ato baik bagi perekonomian kita di tahun 2009?
Menurut sy pmrntah indonesia bener lamban…Ayo donk pap presiden diatur ini…

Makasih atas jawabannya (kalo bs di email ya pak^^)

rere November 24th, 2008 at 8:18 am

saya baca di rumah dulu ya..
panjang, dan menarik untuk dipelajari mengapa krisis ekonomi di AS mempengaruhi dunia.

aline December 9th, 2008 at 12:03 pm

krisis ekonomi global merupakan efek domino bagi seluruh negeri,,
hal ini terjadi karena qta terlalu tergantung pada amerika n menjadikan negara adikuasa tersebut sebGai kiblat,,,
ternyata negara kapitalis tersebut dapat bobrok juga bahkan penyebab nya adalah dari intern negara,,,

Andreas December 14th, 2008 at 3:57 pm

hhhmmm…
saya mao tanya….?!
trus ada yang mengatakan bahwa harga BBM di Indonesia akan turun terkait dengan melemahnya mata uang amerika terkait dengan kasus sub-prime mortgage…
memang apa kaitannya dengan melemahnya US$ thd harga minyak dunia…

mengapa tidak menggunakan poundsterling yang nilai tukarnya lebih baik dari pada US$???

mala December 19th, 2008 at 1:32 pm

aslmkm. mau dong dikirim kan dampak2 krisis global dan juga kiat praktis mengatasinya. makasih. selama ini saya bingung karena sulitnya memahani istilah kredit macet dan sebagainya.

eria December 30th, 2008 at 11:18 am

Apa c dampak krisis ekonomi global terhadap ekspor impor juga terhadap pembayaran LC(Letter of Credit)-nya???tlg bls k email sy y….pls..mksh



Leave a Reply