Pasar Asia Goyah, Krisis Moneter Indonesia bisa terulang
Harapan pasar asia bisa bertahan ternyata menjadi isapan jempol belaka, Resesi di singapura, krisis perusahaan asuransi jepang Yamato Life Insurance yang memiliki hutang hingga US$ 2,7 miliar dan bahkan jumat ini indeks nikkei turun lebih dari 10%. Rupiah vs US dollar pun melemah hingga menembus angka 10.000, keputusan pemerintah untuk membuka pasar BEI jumat ini namun ditutup pada sesi kedua dianggap sebagai keputusan yang plin-plan sehingga membuat para investor panik dan menjual sahamnya dengan harga murah.
Menurut Kevin Scully, analis keuangan dan direktur perusahaan konsultan keuangan NRA Capital situasi di Asia Tenggara akan tetap stabil.
“Saya pikir Asia Tenggara, terutama perbankan Indonesia dan Malaysia, tidak terlalu terpengaruh karena setelah krisis Asia, mereka sangat mengawasi modalnya, dan dengan begitu bank lokalnya tidak berinvestasi di luar negeri. Mereka sangat dilindungi oleh badan pengawas perbankannya. Dan juga karena booming komoditas seperti minyak sawit, karet dan sumber daya alam lainnya. Jadi perbankannya dilimpahi dolar hasil penjualan komoditas itu, dan kesimpulannya perbankan Asia Tenggara terutama Indonesia dan Malaysia termasuk kuat karena tidak bersentuhan langsung dengan situasi di Amerika Serikat,“ menurut Scully.
Scully menambahkan, modal yang ditanam sebagian besar lembaga keuangan Asia Tenggara di bidang properti Amerika Serikat nilainya tidak lebih dari dua miliar Euro. Hal itulah, menurut Scully, yang membuat situasi keuangan di Asia Tenggara tetap kuat. Namun Scully mengkhawatirkan krisis keuangan global akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi di Asia Tenggara. Negara-negara Asia Tenggara banyak memproduksi untuk ekspor. Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi global tentu dapat mempengaruhi perekonomian rakyat.
Sedangkan menurut Chief Economist Deutsche Bank Group, Professor Norbert Walter, kawasan Asia diperkirakan tetap akan melemah, karena terjadi dampak ikutan dari krisis ekonomi negara-negara maju. Selain itu, juga ada penyesuaian dengan kondisi internal dari negara-negara berkembang.
Di Asia, pertumbuhan ekonomi rata-rata berkurang 2%. Rata-rata pertumbuhan negara-negara Asia pada 2008 ini hanya 8% dan pada 2009 akan mengalami penurunan menjadi 6%. ”Pemulihannya baru akan terasa pada tahun 2010,” ujar Walter
Walter juga mengatakan kebanyakan suku bunga bank sentral di Asia berada di bawah tingkat inflasi, termasuk Indonesia. “Tingginya harga energi dan bahan pangan menjadi pemicu tingginya inflasi tersebut,” ujarnya.
Sebagai contoh, BI rate sebesar 9%, namun tingkat inflasi Indonesia saat ini 11%. Dia menambahkan, menurunnya subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) dan pangan di banyak negara berkembang semakin mendorong angka inflasi tersebut.
Akan tetapi jika kita lihat perekonomian Indonesia sebelum krisis di AS mengalami pertumbuhan yang tidak begitu signifikan karena gejolak harga minyak dan harga dollar yang tidak stabil bisa membuat cerita lain di Indonesia, seperti yang terjadi sekarang minyak tanah dan gas LPG yang mulai langka.
Disisi lain keputusan pemerintah untuk buy back saham dan menaikkan suku bunga 9% dianggap kontroversi, dari manakah asal dana 4 triliun itu? dan kenaikan BI rate itu justru menjadi kebijakan tak kondusif bagi pertumbuhan ekonomi di tengah kejatuhan kinerja bursa saham dan seretnya sektor kredit serta tingginya inflasi.
Perekonomian yang kembali terpuruk tentu yang menjadi korban adalah rakyat kecil. Sebelum krisis sudah susah apalagi sudah krisis seperti sekarang?
------------------------------------Pinara.Net
Posted in Info
Tulisan lain yang mungkin terkait
Selamat datang di website Pinara.net wadah inspirasi dan informasi. Web blog informatif yang inspiratif dan media rehat santai sejenak melepas penat.







